I`tiqad Umum La Ilaha illa Allah Menurut Futuhat (1: 36-38)

Saturday, August 21, 2010

Allah `azza wa jalla adalah Tuhan Yang Mahaesa (ilah wahid), tiada yang kedua baginya dalam uluhiyyah-Nya. Yang Mahasuci dari berpasangan dan beranak. Mahapenguasa yang tiada sekutu bagi-Nya. Maharaja yang tiada menteri bagi-Nya. Mahapencipta (Sani`) yang tiada pengatur lain bersama-Nya.

 
Mawjud dengan Dhat-Nya sendiri tanpa berhajat kepada pencipta yang mewujudkan-Nya (mujid yujidu-Hu). Bahkan tiap-tiap yang mawjud selain-Nyalah yang dalam wujudnya perlu kepada-Nya. Justeru, seluruh alam mawjud melalui- Nya (mawjud bi-Hi). Dan Dia satu-satu-Nya Yang bersifat dengan sendiri-Nya Wujud (Huwa wahdahu muttasif bi ’l- wujud li-nafsi-Hi). Tidak ada permulaan bagi wujud-Nya dan tidak ada penghujung bagi kekekalan-Nya (baqa’). Bahkan Dia Wujud Yang Mutlak tiada terikat (ghayr muqayyad).


Yang berdiri dengan Sendiri-Nya (Qa’im bi-nafsi-Hi), bukan sebagai jawhar yang menempati ruang (mutahayyiz) sehingga tertentu bagi-Nya tempat, bukan `arad yang memustahilkan Dia kekal (baqa’), dan bukan juga jisim sehingga ada bagi-Nya arah dan titik-pertemuan (jihah wa ’l- tilqa’). Yang Mahasuci daripada arah (jihat) dan sisi (aqtar). Yang boleh dipandang dengan kalbu dan penglihatan (al- qulub wa ’l-absar), jika Dia menghendaki. Dia bersemayam atas `Arsh-Nya sebagaimana firman-Nya dan atas makna yang Dia kehendaki. Milik-Nya akhirat dan dunia (Al- Najm, 53: 25).

 
Tiada bagi-Nya keserupaan dalam akal: akal tidak menunjukkan pada-Nya; waktu tidak membatasi-Nya [Dia Yang tiada terketika]. Dan tempat tidak melingkungi-Nya; bahkan, Dia ada tanpa tempat (kana wa la makan); bahkan, Dia ber-ada dalam ke-ada-anNya (Huwa `ala ma `alay-Hi kana). Dia menciptakan yang-bertempat dan tempat (al- mutamakkin wa al-makan), dan Dia menciptakan zaman.


Dia menyatakan (Al-Baqarah, 2: 255): Aku Mahaesa, Yang Mahahidup, Yang tiada merasa berat memelihara segala makhluk. Tidak dirujukkan pada-Nya sifat yang tidak layak bagi-Nya dari rekaan para ciptaan-Nya (sun`at al-masnu`at). Yang Mahatinggi dari ditempati yang baharu [ciptaan-Nya], atau dari menempati yang baharu, atau ciptaan-Nya ada selepas-Nya, atau Dia sebelum ciptaan-Nya. Bahkan dikatakan [dalam al-Hadith]: Dia ada tanpa sesuatu bersama-Nya (kana wa la shay’ ma`a-Hu); kerana sesungguhnya “sebelum” dan “sesudah” merupakan bentuk waktu yang diciptakan-Nya (siyagh al-zaman alladhi abda`a-Hu). Dialah Yang Mahakekal terus-menerus (al- Qayyum) Yang tidak tidur. Yang Mahakuasa (al-Qahhar) Yang tidak terkalahkan.


Tiada sesuatu pun menyerupai-Nya (al-Shura, 42: 11). Dia menciptakan `Arsh dan menjadikannya batasan Istiwa’, menciptakan Kursi yang meliputi bumi dan langit yang tinggi. Dia menciptakan (ikhtara`a) lawh dan qalam yang luhur. Yang menjadikannya (ajra) [qalam] penulis dengan ilmu- Nya berkenaan ciptaan-Nya (khalq) hingga Hari Perpisahan dan Penentuan. Dia menciptakan (abda`) alam seluruhnya tanpa model (mithal) yang terdahulu. Dia menciptakan makhluk (khalaqa al-khalq), dan Dia menghapuskan (akhlaqa) apa yang dicipta. Dia menurunkan ruh-ruh yang diberi amanah pada tubuh-tubuh [insan], menjadikan mereka ini di bumi sebagai khalifah, dan menundukkan bagi kita apa yang ada di langit dan di bumi seluruhnya. Tidak bergerak suatu zarahpun melainkan kepada-Nya dan dari-Nya. Dia menciptakan segala tanpa berhajat kepadanya, tiada yang mewajibkan-Nya (menciptakan) yang demikian itu. Namun, ilmu-Nya mendahului bahawa Dia menciptakan apa yang Dia ciptakan. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin (al-Hadid, 57: 3), dan Dia Mahaberkuasa atas segala sesuatu (al-Ma’idah, 5: 120, dll).


Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu (al-Talaq, 65: 12). Dia menghitung segala sesuatu (al-Jinn, 72: 28). Dia mengetahui yang rahsia dan yang lebih tersembunyi [dari yang rahsia] (Ta Ha, 20: 7). Dia mengetahui pengkhianatan mata dan yang tersembunyi dalam dada (Ghafir, 40: 19). Bagaimana Dia tidak mengetahui sesuatu, padahal Dialah yang menciptakannya? Apakah Yang menciptakan itu tidak mengetahui, padahal Dia Mahahalus Mahamengetahui? (al-Mulk, 67: 14). Dia mengetahui segala sesuatu sebelum wujudnya, kemudian Dia memberinya wujud (awjada) atas had yang Dia ketahui akannya. Dia senantiasa mengetahui segala sesuatu. Tidak menjadi baharu ilmu-Nya tatkala membaharu penciptaan (tajaddud al-insha’). Dengan ilmu- Nya Dia mengerjakan dan menyempurnakan (atqana wa ahkama) segala sesuatu. Dan dengannya [iaitu Ilmu] Dia menetapkan dan menentukannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia mengetahui segala kulliyat secara mutlak, sebagaimana Dia mengetahu juz’iyyat, menurut kesepakatan (─│ma`) dan persetujuan (ittifaq) ahli nazar yang sahih. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nyata; maka, Mahasuci Allah dari apa yang mereka sekutukan (al- Mu’minun, 23: 92).


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 comments:

Post a Comment